SEJARAH HADIST

SEJARAH HADIST

Oleh. MOCHAMAD SOEF, SH, S.HI

Pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, hadits belum ditulis dan masih berupa hapalan yang ada dibenak para sahabat. Para sahabat belum merasa ada urgensi untuk melakukan penulisan, mengingat Nabi masih mudah dihubungi untuk dimintai keterangan-keterangan tentang segala sesuatu. Diantara sahabat, tidak semuanya bergaul dengan nabi. Ada yang sering menyertai atau ada yang hanya beberapa kali saja bertemu Nabi. Oleh sebab itu, hadits yang dimiliki setiap sahabat itu tidak selalu sama banyaknya ataupun macamnya. Demikian pula ketelitiannya. Namun demikian, diantara para sahabat itu sering bertukar berita (hadist) sehingga perilaku Nabi Muhammad banyak yang diteladani, ditaati, dan diamalkan sahabat bahkan umat Islam pada umumnya pada waktu Nabi Muhammad masih hidup. Pelaksanaan hadist dikalangan umat Islam pada saat itu selalu berada dalam kendali dan pengawasan Nabi Muhammad baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karenanya, para sahabat tidak mudah berbuat kesalahan yang berlarut-larut. Hadist yang telah diamalkan/ditaati oleh umat Islam dimasa Nabi Muhammad masih hidup, oleh ahli hadist disebut sebagai Sunnah Muttaba’ah Ma’rufah. Itulah setinggi-tinggi kekuatan kebenaran hadist.

Meski pada masa itu, hadist berada pada ingatan para sahabat, namun ada sahabat yang menuliskannya untuk kepentingan catatan pribadinya (bukan untuk kepentingan umum). Diantaranya ialah : ‘Abdullah bin ‘Umar bin ‘Ash (dalam himpunan As Shadiqah) dan ‘Ali bin Abi Thalib (dalam shahifahnya mengenai hukum-hukum diyat yaitu soal denda atau ganti rugi).

Masa Penggalian

Setelah Nabi Muhammad wafat (tahun 11 H / 632 M), pada awalnya belum menimbulkan masalah mengenai hadits, karena sahabat sebagian besar masih hidup dan seakan-akan menggantikan peran nabi sebagai tempat bertanya saat timbul masalah yang memerlukan pemecahan, baik mengenai hadist ataupun Al Quran. Antara lain adalah :

  • Sejak Kekhalifahan Umar bin Khaththab (tahun 13 – 23 H atau 634 – 644 M), wilayah dakwah Islamiyah dan Daulah Islamiyah mulai meluas hingga ke Jazirah Arab, maka mulailah timbul masalah-masalah baru khususnya pada daerah-daerah baru sehingga makin banyak jumlah dan jenis masalah yang memerlukan pemecahannya.
  • Kemudian para sahabat kecil (berusia muda) mulai mengambil alih tugas penggalian hadits dari para sumbernya, yaitu para sahabat besar (senior). Kehadiran seorang sahabat besar selalu menjadi pusat perhatian para sahabat kecil terutama para tabi’in.

Masa Penghimpunan

Musibah besar menimpa umat Islam pada masa awal Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Musibah itu berupa permusuhan diantara sebagian umat Islam yang memakan banyak korban jiwa dan harta yang tidak sedikit. Pihak-pihak yang bermusuhan itu semula hanya memperebutkan kedudukan kekhalifahan kemudian bergeser kepada bidang Syari’at dan Aqidah dengan membuat hadist maudlu’ (palsu) yang bertujuan untuk mengesahkan keinginan/ perjuangan mereka yang saling bermusuhan itu. Dengan terbunuhnya Khalifah Husain bin Ali bin Abi Thalib di Karbala (tahun 61 H / 681 M). Penghimpunnya adalah sebagai berikut:

ü  Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah dari Bani Umayah (tahun 99 – 101 H / 717 – 720 M) termasuk tabi’in yang memiliki jasa yang besar dalam penghimpunan hadist. Para kepala daerah diperintahkannya untuk menghimpun hadist dari para tabi’in yang terkenal memiliki banyak hadist.

ü  Seorang tabi’in yang terkemuka saat itu yakni Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah bin Syihab Az Zuhri (tahun 51 – 124 H / 671 – 742 M) diperintahkan untuk melaksanakan tugas tersebut. Az Zuhri melaksanakan perintah itu dengan kecermatan yang setinggi-tingginya, ditentukannya mana yang maqbul dan mana yang mardud.

Dan Di tempat lain pada masa ini, muncul juga penghimpun Al Hadist yang antara lain :

  • di Mekkah – Ibnu Juraid (tahun 80 – 150 H / 699 – 767 M)
  • di Madinah – Ibnu Ishaq (wafat tahun 150 H / 767 M)
  • di Madinah – Sa’id bin ‘Arubah (wafat tahun 156 H / 773 M)
  • di Madinah – Malik bin Anas (tahun 93 – 179 H / 712 – 798 M)
  • di Madinah – Rabi’in bin Shabih (wafat tahun 160 H / 777 M)
  • di Yaman – Ma’mar Al Ardi (wafat tahun 152 H / 768 M)
  • di Syam – Abu ‘Amar Al Auzai (tahun 88 – 157 H / 707 – 773 M)
  • di Kufah – Sufyan Ats Tsauri (wafat tahun 161 H / 778 M)
  • di Bashrah – Hammad bin Salamah (wafat tahun 167 H / 773 M)
  • di Khurasan – ‘Abdullah bin Mubarrak (tahun 117 – 181 H / 735 – 798 M)
  • di Wasith (Irak) – Hasyim (tahun 95 – 153 H / 713 – 770 M)
  • – Jarir bin ‘Abdullah Hamid (tahun 110 – 188 H / 728 – 804 M)

C. Sebutkan pendiwanan dan penyusunan Kitab Hadits

Usaha pendiwanan (yaitu pembukuan, pelakunya ialah pembuku hadits disebut pendiwan) dan penyusunan hadits dilaksanakan pada masa abad ke 3 H. Langkah besar dalam masa ini diawali dengan pengelompokan hadits. Pengelompokan dilakukan dengan memisahkan mana hadits yang marfu’, mauquf dan maqtu‘. Pengelompokan tersebut diantaranya dilakukan oleh :

  • Ahmad bin Hambal
  • ‘Abdullan bin Musa Al ‘Abasi Al Kufi
  • Musaddad Al Bashri
  • Nu’am bin Hammad Al Khuza’i
  • ‘Utsman bin Abi Syu’bah

Adapun pendiwanan hadits dilaksanakan dengan penelitian sanad dan rawi-rawinya. Ulama terkenal yang mempelopori usaha ini adalah : Ishaq bin Rahawaih bin Mukhlad Al Handhali At Tamimi Al Marwazi (161-238 H / 780-855 M). Ia adalah salah satu guru Ahmad bin Hambal, Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, An Nasai. Usaha Ishaq ini kemudian dilanjutkan oleh Bukhari, kemudian diteruskan oleh muridnya yaitu Muslim. Akhirnya, ulama-ulama sesudahnya meneruskan usaha tersebut sehingga pendiwanan kitab hadits terwujud dalam kitab Al Jami’ush Shahih Bukhari, Al Jami’ush Shahih Muslim, As Sunan Ibnu Majah, dan seterusnya sebagaimana terdapat dalam daftar kitab masa abad 3 Hijriyah. Sedangkan pada masa abad ke-4 Hijriyah, dapat dikatakan sebagai masa penyelesaian pembinaan hadist. Sedangkan abad ke-5 Hijriyah dan seterusnya adalah masa memperbaiki susunan kitab hadits, menghimpun yang berserakan dan mempermudah metode pembelajarannya.

3 Responses

  1. Assalamu’alaykum wr wb.
    Ustadz, sy lihat dalam kitab Al-Manhalul Lathiif fii Ushuulil Hadiitsisy Syariif
    karya Muhammad bin Alwi Al-Maliki ada data-data menarik utk lengkapi tulisan di atas. misalnya ada beberapa riwayat kuat yg mengatakan bahwa penulisan hadits sudah dimulai sejak Nabi Muhammad saw masih hidup yaitu oleh para sahabat dan bagaimana usaha “pengkompromian” dgn larangan Nabi saw utk menulis hadits, pembagian masa penulisan hadits menjadi tiga (masa sahabat, penulisan hadits secara keseluruhan , dan pemilahan hadits2 shahih), dan data-data lain. smg bermanfaat.

    • wassalamualaikum wr. wb……
      aziz mungkin bisa membuka web ini sebagai tambahan ….
      pondokhabib.wordpress.com
      alyahya.blogspot.com
      ahlulbait.blogdrive.com
      webersis.com/2008/01/06/kepustakaan-rasulullah

      kurang lebihnya mohon maaf,….

  2. http://wefherfghhnwepppiilkop.com wefherfghhnwepppiilkop
    wefherfghhnwepppiilkop

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: