Pedoman Penjaminan Mutu (Quality Assurance) Pendidikan Tinggi

Resensi

Oleh: Mochamad Soef, SH., S.HI

Judul : Pedoman Penjaminan Mutu (Quality Assurance) Pendidikan Tinggi.

Penerbit : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas.

Cetakan : Cet1, 1 Oktober 2003.

Tebal : 64 halaman.

Istilah etik dan moral memiliki konotasi yang sama yaitu sebuah pengertian tentang salah dan benar, atau buruk dan baik. Dipahami sebagai nilai-nilai tradisional yang terkesan konservatif karena mengandung unsur nilai kejujuran (honesty), integritas dan perhatian pada hak serta kebutuhan orang lain, tetapi sangat tepat dijadikan “standar” dalam menilai dan mempertimbangkan persoalan etika-moral akademik, yang intinya menjunjung tinggi kebenaran ilmiah. Dan dapat dikaitkan dengan istilah “norma”, yaitu pedoman tentang bagaimana orang harus hidup dan bertindak secara baik dan benar, sekaligus merupakan tolok ukur mengenai baik-buruknya perilaku dan tindakan yang diambil. Dengan demikian, etika akan memberikan batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya.
Pembentukan soft skill seperti watak, sikap, dan perilaku (attitude) di dalam kehidupan sehari-hari adalah merupakan tiga aspek dasar pembentukan dan penilaian terhadap kompetensi seseorang sebagai hasil dari sebuah proses pendidikan. etika akademik dapat diartikan sebagai ketentuan yang menyatakan perilaku baik atau buruk dari para anggota sivitas akademika Perguruan Tinggi, ketika mereka berbuat atau berinteraksi dalam kegiatan yang berkaitan dengan ranah dalam proses pembelajaran.

Etika akademik perlu ditegakkan untuk menciptakan suasana akademik yang kondusif bagi pengembangan Perguruan Tinggi sesuai standar yang telah ditetapkan.
Sivitas akademika Perguruan Tinggi yang terdiri atas 3 (tiga) kelompok yaitu mahasiswa, dosen, dan staf administrasi secara integrative membangun institusi Perguruan Tinggi dan berinteraksi secara alamiah di dalam budaya akademik untuk mencapai satu tujuan, yaitu mencerdaskan mahasiswa dalam aspek intelek, emosi, dan ketaqwaan mereka. Sebagai konsekuensinya, etika akademik di Perguruan Tinggi juga harus melibatkan ketiga unsur tersebut, maka seluruh unsur sivitas akademika akan terikat pada etika akademik, sehingga tercapainya melaksanaan tridharma Perguruan Tinggi (pendidikan/pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat).
Standar etika akademik, dapat direpresentasikan sebagai etika dosen dan etika mahasiswa, yang akan memberikan jaminan mutu proses interaksi dosen-mahasiswa dan suasana akademik yang kondusif. Dosen adalah sebuah pilihan profesi mulia dan secara sadar diambil oleh seseorang yang ingin terlibat dalam proses mencerdaskan anak bangsa. Untuk itu dosen wajib untuk senantiasa meningkatkan kompetensi dan kualitasnya dalam kerangka melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi secara berkelanjutan dan bertanggungjawab.

Berkaitan dengan hal-hal tersebut seorang dosen harus mematuhi beberapa etika akademik yang berlaku bagi dosen pada saat melaksanakan kewajiban serta tanggung-jawabnya.
Mahasiswa sebagai salah satu unsur sivitas akademika yang merupakan obyek dan sekaligus subyek dalam proses pembelajaran juga perlu memiliki, memahami dan mengindahkan etika akademik khususnya pada saat mereka sedang berinteraksi dengan dosen maupun sesama mahasiswa yang lain pada saat mereka berada dalam lingkungan kampus. Mahasiswa Perguruan Tinggi memiliki sejumlah hak, berbagai kewajiban dan beberapa larangan (plus sanksi manakala dilanggar) selama berada di lingkungan akademik. Salah satu hak mahasiswa adalah menerima pendidikan/ pengajaran dan pelayanan akademik sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya. Mahasiswa memiliki hak untuk bisa memperoleh pelayanan akademik dan menggunakan semua prasarana dan sarana maupun fasilitas kegiatan kemahasiswaan yang tersedia untuk menyalurkan bakat, minat serta pengembangan diri. Proses Pembelajaran merupakan interaksi yang paling sering terjadi dan selama proses berlangsung dosen wajib menempatkan mahasiswa sebagai subyek dan memeperlakukan secara manusiawi. Dengan etika ini, dalam kegiatan akademik seorang dosen tidak sepatutnya memperlakukan mahasiswa sebagai obyek atau alat untuk memenuhi kepentingan atau keuntungan pribadi dosen. Dosen harus mampu berperan sebagai fasilitator, memberi bimbingan dan kebebasan sepenuhnya kepada mahasiswa dalam kegiatan akademik.
Suasana akademis dalam realitas sehari-hari dapat dengan mudah dikenali melalui berbagai interaksi yang terjadi, khususnya antara dua unsur sivitas akademika yaitu dosen dan mahasiswa.

Suasana akademik harus mampu diwujudkan, dipelihara dan ditingkatkan secara persuasif, dinamis, serta berkelanjutan dengan memperbaiki segala kekurangan yang ada. Beberapa parameter seperti sarana/prasarana akademik, mutu dan kuantitas interaksi kegiatan, rancangan kegiatan, ketelibatan sivitas akademika dalam berbagai kegiatan, dan pengembangan kepribadian ilmiah akan dijadikan sebagai tolok ukur pemenuhan standar terwujudnya suasana akademik yang diharapkan
Etika akademik merupakan dasar bagi setiap unsur sivitas akademika, khususnya dosen dan mahasiswa, untuk berinteraksi secara dinamis-produktif dalam suasana akademik yang kondusif dan saling menghargai. Interaksi antar unsur sivitas akademika yang berlangsung dalam koridor norma-norma akademik akan melahirkan perilaku, tradisi, dan budaya ilmiah di dalam masyarakat kampus.

Advertisements

Dasar-dasar Etika dan Moralitas

Resensi
Oleh: Mochamad Soef,SH., S.HI

Judul : Dasar-dasar Etika dan Moralitas
Penulis : I Gede A. B.Wiran
Cetakan : 1, 2005
Tebal : 457 halaman

Etika dan filsafat moral mempunyai tujuan untuk menerangkan hakikat kebaikan, kebenaran, dan keburukan atau kejahatan. Manusia selalu melakukan sebuah penilaian atas fenomena di sekitarnya, guna untuk mengetahui suatu tindakan dan perbuatan yang erat terkait dengan keyakinannya tentang baik, buruk, serta benar dan salah. Profesi tidak hanya menyangkut sebuah kepercayaan dan atau amanat individu seseorang akan tetapi juga terkait dengan kepentingan umum (public trust). Sehingga suatu perlindungan terhadap kepentingan pribadi dan kepentingan umum selain diatur oleh perangkat hukum, juga berkiblat pada aturan-aturan yang tidak tertulis yang berpusat pada hati nurani insani akan yakin sebuah kewajiban agama, etika, dan moral. Maka diharapkan terciptanya kesetaraan antara kepentingan prifat dan kepentingan public.

Negara indonesia pada dewasa ini telah dilanda krisis multidimensi sebagai perwujudan anak bangsa yang tidak mendengarkan hati nuraninya dalam berbuat di segala bidang. Maka kita harus sikapi krisis multidimensi tersebut dengan solusi membangun kembali tatanan nilai dengan berbijak pada konsep kesetaraan etika dan moral dasar, sehingga dalam perumusan hukum harus didasarka pada asumsi nilai-nilai moralitas dan prinsip-prinsip humanis terhadap para penegak hukum. Akan tetapi sangat ironis idealis penegakan hukum menjedi tercoreng disebabkan ulah para aparat hukum sendiri. Prilaku yang tidak terpuji sering dilakukan antara aparat penegak hukum dan sesama aparat penegak hukum lain. Maka terjadilah kolusi-nepotisme antara pihak-pihak yang berkepentingan sehingga menjamurlah mafia-mafia di dunia hukum dan peradilan.

Hal ini, manusia sebagai karakteristik pribadi dan konteks hubungan sosial. Manusia sebagai pribadi dalam renungannya membawa dirinya pada konsep penalaran mendalam mengenai eksistensi dirinya mengantarkan manusia berpikir ke arah filsafat. Filsafat adalah merupakan suatu induk ilmu pengetahuan, sejak 25 abad yang lalu manusia lahir diberikan kesaksian menyakinkan tentang betapa ungennya filsafat bagi manusia.

Setiap profesi termasuk hakim menggunakan sistem etika terutama untuk menyediakan struktur yang mampu menciptakan disiplin tata kerja dan menyediakan garis batas tata nilai yang dapat dijadikan pedoman para profesional untuk menyelesaikan dilema etika yang dihadapi saat menjalankan fungsi pengembanan profesinya sehari-hari.

Etika merupakan norma-norma yang dianut oleh kelompok, golongan atau masyarakat tertentu mengenai perilaku yang baik dan buruk. Lebih dari itu, etika adalah refleksi kritis dan rasional mengenai norma-norma yang terwujud dalam perilaku hidup manusia, baik secara pribadi atau kelompok. Sistem etika bagi profesional dirumuskan secara konkret dalam suatu kode etik profesi yang secara harfiah berarti etika yang ditulis. Kode etik ibarat kompas yang memberikan atau menunjukkan arah bagi suatu profesi dan sekaligus menjamin mutu moral profesi itu dalam masyarakat. Tujuan kode etik ini adalah menjunjung tinggi martabat profesi atau seperangkat kaedah perilaku sebagai pedoman yang harus dipatuhi dalam mengemban suatu profesi.

Kode etik profesi merupakan inti yang melekat pada suatu profesi, ialah kode perilaku yang memuat nilai etika dan moral. Hakim dituntut untuk profesional dan menjunjung etika profesi. Profesionalisme tanpa etika menjadikannya “bebas sayap” (vluegel vrij) dalam arti tanpa kendali dan tanpa pengarahan. Sebaliknya, etika tanpa profesionalisme menjadikannya “lumpuh sayap” (vluegel lam) dalam arti tidak maju bahkan tidak tegak. Pelanggaran atas suatu kode etik profesi tidaklah terbatas sebagai masalah internal lembaga Profesionalisme tanpa etika menjadikannya “bebas sayap” (vluegel vrij) dalam arti tanpa kendali dan tanpa pengarahan. peradilan, tetapi juga merupakan masalah masyarakat.

MELAHIRKAN PEMIMPIN MASA DEPAN

MELAHIRKAN PEMIMPIN MASA DEPAN


pemimpin masa depan

pemimpin masa depan

Seorang pemimpin dilahirkan sebagai pemimpin bukan seperti menyiapkan minuman hangat. Para pemimpin akan matang dengan lambat, sedikit demi sedikit. Proses mecetak seorang pemimpin merupakan proses yang sangat panjang dan berlangsung melewati banyak tahapan meliputi berikut:

1. Keturunan dan pengalaman-pengalaman masa kecil serta terciptanya kondisi yang mendukung terbentuknya kepemimpinan.
2. Berbagai macam bidang ilmu dan seni menciptakan landasan bagi pengetahuan.
3. Pengalaman yang menghasilkan kebijaksanaan melalui penerapan pengetahuan menjadi praktik nyata.
4. Latihan untuk mengembangkan kemampuan dan potensi dalam bidang-bidang tertentu, seperti seni komunikasi.
Seorang pemimpin senyoknya memperhatikan nasihat-nasihat sebagai berikut, 21 nasihat;

NASIHAT ORANG TUA
Nasihat Pertama; mulai sekarang kita harus mulai mengucapkan, “ Kita adalah Bangsa yang satu” Cukup habis masanya bagi kita saling melempar tanggung jawab dan telah habis masanya bagi kita saling mencela dan menghina. Orang yag menunjuk aib orang lain, lupa bahwa tiga jarinya menunjuk kepada dirinya sendiri.

Nasihat Kedua; Kita harus tahu bahwa kepemimpinan bukan dengan berbicara keras, mencaci-maki, atau bertindak kasar, melainkan dengan moral yang tinggi. Siapa saja yang memerintahkan dengan cara yang keras, memaki, atau kasar, maka ia akan dibuang dan tidak akan bertahan lama.

Nasihat Ketiga; Fenomena pendidikan dalam keluarga yang sering muncul adalah anak dididik untuk selalu mengikuti ibunya atau ayahnya, tetapi melupakan sisi pendidikan dhomirnya. Pendidikan yang mengarahkan hati dan jiwa anak untuk selalu berhubungan kepada Allah swt, kemana saja ia pergi dan di mana saja ia berada akan membawa manfaat. Akan tetapi, yang sering kita lakukan adalah membunuh anak-anak itu dengan mengatasnamakan dhomir dan menghancurkan kepribadian mereka, kemudian dhomir-dhomir mereka kita jual.

NASIHAT GURU
Nasihat Keempat; Kita harus mempersempit jurang pemisah antara anak dan orang dewasa. Pada masa dulu, orang-orang dewasa merupakan gudang pengalaman dan ilmu yang diwariskan oleh para pendahulu mereka. Oleh karenanya, ia dapat memberikan gambaran yang hidup dan terang bagi murid, sehingga tidak ada jurang pemisah di antara mereka. Murid melihat gurunya sebagai teladan yang pantas untuk diikuti. Akan tetapi, hal itu tidak terjadi saat ini.

Nasihat Kelima; Membentuk kelas-kelas belajar/ universitas interaktif bagi anak-anak yang memiliki keistimewaan kepemimpinan. Dalam hal ini, harus dibedakan antara anak yang memiliki keistimewaan sebagai pemimpin dan anak yang berprestasi di dalam kelas. Anak yang memiliki keisti mewaan sebagai pemimpin belum tentu berprestasi di dalam kelas dan sebaliknya, anak yang berprestasi belum tentu memiliki keistimewaan sebagai pemimpin. Setiap orang memiliki keistimewaan dalam satu bidang, untuk itu kita harus menyediakan lingkungan dan sarana pendidikan yang mendukung. Kita menginginkan adanya falsafah pendidikan yang jelas sesuai dengan kondisi kita, bukan diimpor dari jauh yang tidak sesuai dengan keadaan kita.

Nasihat Keenam; Kita jadikan metodologi dan persiapan mencetak pemimpin ini sebagian dari rencana-rencana strategis. Yaitu dengan mengadakan pelatihan-pelatihan kepemimpinan di kelas-kelas dan menbuka kesempatan untuk bertanya, berdialog, serta berdiskusi kepada semua siswa sehingga dapat mengembangkan bakat kepemimpinan seseorang.

Nasihat Ketujuh; Kita harus menanamkan akidah yang lurus kepada generasi muda. Akidah yang membersihkan jiwa dan mendidik sikap, menyalakan api kata-kata, dan mencetak laki-laki yang berakidah. Laki-laki yang mencetak didinya dan semangatnya menyala untuk mencetak orang lain.

Nasihat Kedelapan; Memberikan perhatiian yang khusus kepada generasi muda karena mereka adalah benih pertama dan bibit unggul. Jika kita menyirami dan merawatnya dengan penuh perhatian, kemudian menyelimutinya dengan rasa cinta dan penghormatan, maka akan memberikan manfaat yang terus mengalir.

Nasihat Kesembilan; Meluangkan waktu untuk menerangkan lembaga-lembaga sejarah para tokoh kepada anak-anak muda, memacu semangat mereka, dan menyinari akal mereka. Memberikan contoh kepemimpinan yang ideal bagi mereka dengan cara yang menarik, sederhana, dan mengesahkan.

NASIHAT AHLI MANAJEMEN
Nasihat Kesepuluh; Kepemimpinan bukanlah kehormatan dan jabatan untuk dibangga-banggakan. Berapa banyak orang yang bergembira dan saling menjatuhkan untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi, namun pada waktu yang sama, ia tidak mampu menjalankan amanah. Benar, kesalahan atau human error tidak dapat dihindari, namun tidak mengapa jika setelahnya diikuti dengan perbaikan. Siapakah yang memiliki tanda-tanda perbaikan?. Alangkah senangnya kita jika orang-orang yang baik menduduki jabatan-jabatan penting. Sebesar kegembiraan kita, maka sebesar itu pula kesedihan kita atas banyaknya kesalahan. Sehingga berusaha untuk menutupi aib dan kekurangan-kekurangan tersebut, namun sampai kapan kita tahan menutup mata dan telinga?. Harus ada persiapan bersama-sama untuk perbaikan. Dan tanda perbaikan pertama adalah menerima kritik.

Setiap kali seorang pemimpin melangkahkan kakinya, ia butuh kritikan yang membengun dan kritik yang mengembalikan kewibawahan manajemen. Ironisnya, kritik diharamkan oleh banyak orang. Sekarang ini kritik untuk meluruskan bangunan “Mencetak Seorang Pemimpin” tidak diterima, namun ditolak oleh para pemimpin dengan alasan bahwa mereka adalah orang-orang yang bekerja dan tidak mungkin terbatas dari kesalahan.

Nasihat Kesebelas; Mengintensifkan program-program kesadaran kepemimpinan yang sadar kepada analisis serta menyiapkan kajian-kajian dan penelitian. Mencetak rasa percaya diri dan kepekaan kepada semua anak yang berbakat, agar mereka tahu apa yang memberikan manfaat dan apa yang mendatangkan bahaya. Ketika itulah anda mengajarkan cara memancing kepada mereka dan tidak perlu memberikan ikan setiap hari.

Nasihat Kedua Belas; Merenungkan kembali trilogy syarat kepemimpinan, “Sudahkah organisasi anada memiliki visi yang jelas?. Sudahkan memiliki pengikut-pengikut yang setia mengerjakan apa yang memberikan manfaat bagi kepentingan bersama bukan untuk keserakahan-keserakahan pribadi?. Apakah dengan begitu mereka mengetahui arah manajemen mereka?. Sudahkah anda memiliki keahlian untuk menentukan kunci yang sesuai dalam berhubungan dengan pengikut-pengikut anda?”.

Nasihat Ketiga Belas; Kepercayaan adalah kata yang elastic, tidak memiliki bentuk, akan tetapi ditanam begitu saja dan butuh puluhan tahun untuk memetik hasilnya. Airnya adalah perasaan dan perhatian kepada orang lain.

Nasihat Keempat Belas; Kebanyakan pimpinan pada saat ini hanya memberikan perhatian kepada titik kelemahan yang dimiliki orang lain, sehingga terjadi benturan di antara kedua pihak. Pada waktu yang sama, ia melupakan titik-titik keistimewaan dan kekuatan masing-masing, sehingga waktu terbuang dengan sia-sia. Kita telah keliruan dengan meletakkan orang yang istimewa pada posisi yang tidak sesuai, sehingga muncullah kritis lemahnya performa kerja para pegawai. Ini adalah kritis yang sangat berbahaya dan harus segera dihentikan seefektif mungkin. Kita tidak boleh menganggapnya sebagai hal yang biasa karena setiap kali kita melangkah kaki kedepan, sebenarnya kita kembali ke belakang beberapa langkah.

NASIHAT PARA DA’I
Nasihat Kelima Belas; Memberikan wawasan kepada para orang-tua, guru, imam, dan pembombingan dengan proses “Mencetak Seorang Pemimpin” dan menemukan potensi-potensi yang terpinggirkan. Hal itu dilakukan dengan pembinaan, memenuhi kebutuhan-kebituhan dan keinginan-keinginan, serta melalui pelatihan yang terarah bagi orang-orang yang berbakat. Selain itu juga dapat dilakukan dengan memberikan wawasan kepada mereka dengan bahasa yang sederhana dan jelas.

Nasihat Keenam Belas; Memberikan perhatian terhadap pengembangan potensi-potensi kepemimpinan wanita dan melatihnya melalui ceramah, buku, kaset, dan memberikan contoh hal tersebut melalui sejarah tokoh-tokoh wanita.
Nasihat Ketujuh Belas: Memberikan harus meninggalkan sikap saling mencela dan menyalahkan lalu menggantinya dengan kerja sama yang nyata untuk mengatasi degradasi moral. Kesibukan dalam memenuhi tuntutan-tuntutan zaman seharusnya tidak melupakan orang lain yang membutuhkan pertolongan. Kita harus menentukan dan melalui peranan-peranan kita.

Nasihat Kesembilan Belas; Kita selalu merenungkan nash Al-Qur’an yang berbunyi “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu,” (Q.S. Muhammad:7), maka kita katakana, ini adalah solusi bagi berbagai persoalan dan pertanyaan-pertanyaan yang penting dan membingungkan. Jika kita tanamkan keyakinan agama dalam hati kita dan hati orang-orang di sekitar kita, berarti kita telah mendaki gunung kemenangan. Proses pendakian ini dimulai dari dalam diri kita, yaitu manajemen pribadi kita. Cara kita memperlakukan diri kita adalah cermin kepemimpinan kita terhadap orang lain.

Nasihat Kedua Puluh; Tindakan criminal yang tidak ada hukumnya adalah membunuh potensi dan bakat yang dilakukan di berbagai tempat, di bawah alasan niat baik dan tanpa kesengajaan. Tindakan criminal ini dilakukan dengan teknik yang istimewa, dengan cara-cara islami, sehingga pemimpin muncul dengan sendirinya dan kehilangan semangat dan prinsip-prinsip mencetak seorang pemimpin. Ini adalah tindakan criminal, jika kita tidak diminta pertanggungjawaban di dunia maka kita tidak bisa menyembunyikannya di hadapan Allah yang Maha Kuasa.

Nasihat Kedua Puluh Satu; Inti kepemimpinan adalah ketika manusia memahami istigfar yang menggerakkan hati, memahami ayat-ayat Allah di jagat raya dalam diri nmanusia dan percaya kepada hukum-hukum-Nya. Dari sinilah Allah memberinya kemampuan untuk memimpin manusia, “Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang member petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar. Dan mereka menyakini ayat-ayat kami.” (Q.S. as-Sajdah:24)

Pada akhirnya, anda dan akan membuka pintu kebaikan lain yang kami nantikan dari mereka yang telah memiliki pengalaman, banyak makan garam kehidupan dan orang yang konsisten yang mendapatkan inspirasi dari kejayaan. Bukankan dari rahim malam terlahir fajar. Semoga anda semua sukses dalam dunia dan akhirat.