Studi Analisis Terhadap Pasal 12 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Imbalan Nadzir Wakaf

ABSTRAK

TEJA SUKMANA, Studi Analisis Terhadap Pasal 12 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Imbalan Nadzir Wakaf, Jurusan Ahwal Al-Syakhsiyah Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang.

Wakaf sebagai salah satu lembaga Islam yang erat kaitannya dengan kesejahteraan umat sudah lama melembaga di Indonesia. Praktek wakaf dan perwakafan yang terjadi dalam masyarakat belum sepenuhnya tertib dan efisien sehingga dalam berbagai kasus banyak harta benda wakaf yang terlantar dan tidak terpelihara sebagaimana mestinya bahkan beralih kepada pihak ketiga dengan cara melawan hukum. Hal demikian terjadi karena ketidakmampuan nadzir dalam mengelola dan mengembangkan harta wakaf disamping kurangnya pemahaman masyarakat terhadap fungsi dan peran harta wakaf. Untuk merealisasi dan merepotensi tujuan wakaf, pemerintah telah memberikan payung hukum di bidang perwakafan ini dengan instrumen Undang-Undang yaitu UU No. 41 Tahun 2004, yang didalamnya lebih menegaskan kedudukan nadzir dalam perwakafan dan adanya batasan imbalan nadzir dalam mengelola harta wakaf selama ini belum jelas batasan imbalan bagi para nadzir baik dalam PP No. 28 Tahun 1977 tentang perwakafan tanah milik dan Kompilasi Hukum Islam yang berdasarkan atas penetapan dari Majelis Ulama Kecamatan dan Kepala Kantor Urusan Agama.

Advertisements

Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Nasabah Tabungan Pada Bank Muamalat Indonesia Kediri

ABSTRAKS

ANI SULASIAH, Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Nasabah Tabungan Pada Bank Muamalat Indonesia Kediri, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, UNIBRAW.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh yang signifikan dari variabel kualitas pelayanan secara simultan dan parsial terhadap kepuasan nasabah tabungan serta untuk menganalisis variabel kualitas pelayanan yang berpengaruh dominan terhadap kepuasan nasabah tabungan.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan lima variabel bebas yaitu: bukti fisik (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan (X4), dan empati (X5) serta variabel terikat yaitu kepuasan nasabah tabungan (Y). Penelitian ini dilakukan di Bank Muamalat Indonesia Kediri dengan menggunakan sampel sebanyak 100 orang nasabah. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling. Sumber data menggunakan data primer yaitu hasil kuesioner dan data sekunder yaitu bahan – bahan dokumentasi. Alat analisis data yang digunakan adalah regresi berganda.
Untuk mengetahui pengaruh dari setiap variabel tersebut maka dipergunakan uji regresi linier berganda dan uji yang lain untuk memperkuat hasil analisis dari penelitian ini. Dari penelitian ini diketahui bahwa masing-masing variabel kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti fisik (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan (X4), dan empati (X5) yang mempunyai pengaruh secara simultan dan parsial dalam kepuasan nasabah tabungan (Y).Variabel daya tanggap (X3) merupakan variabel yang mempunyai pengaruh dominan terhadap kepuasan nasabah tabungan Bank Muamalat Indonesia Kediri.

Kata Kunci:
Kualitas Pelayanan, Kepuasan Nasabah Tabungan.

Analisis Terhadap Pendapat Imam Asy-Syafi’i Tentang Warisan Orang Yang Hilang

ABSTRAK

AKHMAD KHOERUDIN, Analisis Terhadap Pendapat Imam Asy-Syafi’i Tentang Warisan Orang Yang Hilang, Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang.

Penelitian ini menggunakan metode Dekskriptif, dalam hal ini penulis membandingkan pendapat ulama di satu pihak dan pendapat Imam Asy-Syafi’i dilain pihak. Sebagai pendekatannya penulis mengguanakan Usul Fiqh dalam mendukung pemikirannya. Penulis juga menggunakan metode Content analisis. Dalam penelitian ini dapat penulis simpulkan bahwa Pada dasarnya pendapat Imam Asy-Syafi’i tentang warisan orang yang hilang (Mafqud) hampir sama dengan hukum perdata yang berlaku sekarang ini walaupun ada perbedaan sedikit, yaitu harus ditangguhkan sampai ada kepastian matinya yang haqiqi atau matinya secara hukum atas dasar putusan Pengadilan Agama. Imam Asy-Syafi’i memberi tenggang waktu empat tahun untuk melakukan penyelidikan. Hal ini menunjukan pendapat Imam Asy-Syafi’i masih relevan pada zaman ini karena dalam pemikiranya berasal dari jalan ijtihad dan bersumber dari hukum Islam.

Kata Kunci:

waris, Mafqud, Asy-Syafi’i

MEMOTIFASI SISWA DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR DENGAN METODE TANYA JAWAB PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITS DI MADRASAH TSANAWIYAH AL-MAHRUSIYAH LIRBOYO KEDIRI

A. Latar Belakang

Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang, mempunyai nilai strategi bagi kelangsungan peradapan manusia didunia. Variabel pendidikan suatu yang utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara, demikian pentingnya pendidikan, maka sekecil apapun persoalan pendidikan harus diselesaikan dengan baik dalam sekolah maupun tingkat kelas. Pada kegiatan pembelajaran dikelas VII MTs. HM. Tri Bakti peneliti menemukan beberapa kondisi yang menarik perhatian banyak, di dalam belajar mengajar, siswa sering kali bersifat acuh, tidur, ketika guru menjelaskan materi pelajaran. Berdasarkan studi awal Di Madrasah Tsanawiyah Al Mahrusiyah Lirboyo Kediri pada kelas VII C tahun pelajaran 2009/2010, diperoleh informasi bahwa ada beberapa siswa yang prestasi belajar pelajaran Al Qur’an hadits masih di bawah SKBM. Jika SKBM mata pelajaran Al Qur’an hadits di madrasah ditetapkan sebesar 75. Permasalahan diatas didasarkan pada kurangnya motovasi siswa dalam belajar sehingga perlu adanya motivasi dari guru. Masran mengemukakan bahwa “Motivasi merupakan suatu hal yang penting yang mendasari terjadinya tingkah laku siswa , serta motivasi dapat berasal dari dalam maupun luar seseorang , yang berfungsi mengarahkan tingkah laku siswa menuju pada tujuan yang ingin dicapainya”. Dari rendahnya motivasi siswa dalam belajar memungkinkan guru dapat memotivasi ketika mengajar . Suatu keberhasilan sangat tergantung pada upaya yang dilakukan dan motivasi untuk mewujudkanya.kesungguhan dalam melakukan suatu aktivitas sangat mungkin dapat mempengaruhi keberhasilan tercapainya suatu tujuan. Pada dasarnya motivasi timbul diakibatkn oleh dua faktor yaitu aktor internal dan faktor eksternal. Dari berbagai masalah di atas maka terdorong keinginan peneliti untuk mengadakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan memfokuskan penelitian tentang: “Memotifasi Siswa Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Al Qur’an Hadits Di Madrasah Tsanawiyah Al Mahrusiyah Lirboyo Kediri Dengan Metode Tanya Jawab”.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah: “Apakah metode tanya jawab dapat memotivasi siswa dalam meningkatkan prestasi belajar Al Qur’an Hadits Di Madrasah Tsanawiyah Al Mahrusiyah lirboyo kelas VII C Tahun Pelajaran 2009/2010 ?.

Efektifitas Upaya Islah dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kota Malang

ABSTRAK

RINA MEGAWATI, Efektifitas Upaya Islah dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kota Malang; Jurusan Syari’ ah (Akhwal Asy-syakhsiyah) Univ.Muhammadiyah Malang. 2009.

Kata Kunci:

Efektifitas, Islah, Perceraian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses islah yang dilakukan hakim dalam perkara perceraian. Selain itu juga menampilkan kendala-kendala yang dihadapi hakim dalam melaksanakan proses islah. Serta, meneliti sejauh manakah keefektifan islah dalam menghambat banyaknya kasus perceraian di Pengadilan Agama Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan Yuridis Sosiologis, dengan subyek penelitian adalah hakim yang menangani persidangan perceraian dan para pihak yang perkaranya telah berhasil dicabut oleh hakim dan para pihak yang perkaranya diputus biasa oleh hakim. Pemilihan Pengadilan Agama Kota Malang sebagai setting penelitian didasarkan pada data-data yang menunjukkan bahwa kasusu perceraian di Pengadilan Agama Kota Malang menduduki peringkat no 2 terbesar di Jawa Timur. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara atau interview dan dokumentasi. Sedangkan analisis datanya menggunakan model deskriptif analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakefektifan proses islah di Pengadilan Agama Kota Malang, dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor internal dan faktor eksternal.

Strategi Baitul Mal wa Tamwil (BMT) Dalam Pengembangan Usaha Kecil Masyarakat (Studi Kasus di BMT Muamalah Syari’ah Tebuireng Jombang)

ABSTRAK

SIGIT SUBAGYO. Strategi Baitul Mal wa Tamwil (BMT) Dalam Pengembangan Usaha Kecil Masyarakat (Studi Kasus di BMT Muamalah Syari’ah Tebuireng Jombang), Jurusan Syari’ah Ekonomi Islam, STAIN Kediri, 2007.

Kata kunci:

Strategi BMT, pengembangan usaha kecil.

Mengembangkan dan membina usaha kecil bukan hal yang mudah tentunya memerlukan waktu yang panjang dan bertahap secara berkelanjutan melalui prosedur terlebih dahulu, BMT Muamalah Syari’ah Tebuireng Jombang diharapkan dapat berperan optimal dalam mendukung pengembangan usaha kecil melalui bantuan modal dan pembinaan usaha, sehingga kegiatan usaha kecil ke bawah dapat berkembang maju dan mandiri, serta mampu mengangkat dan memulihkan perekonomian dalam upaya mengentaskan kemiskinan. Fokus penelitian ini adalah: 1) bagaimana usaha, strategi, serta kelebihan dan kekurangan strategi BMT Muamalah Syari’ah Tebuireng Jombang dalam pengembangan usaha kecil masyarakat? Sedangkan tujuan penelitian adalah: untuk mengetahui usaha, strategi, serta kelebihan dan kekurangan strategi BMT Muamalah Syari’ah Tebuireng Jombang dalam pengembangan usaha kecil masyarakat.

Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dari informasi yang diperoleh dari manajer, karyawan dan nasabah BMT Muamalah Syari’ah Tebuireng Jombang. Prosedur pengumpulan data dengan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sedangkan analisis data dengan reduksi data atau penyederhanaan (data reduction), paparan atau sajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (conclusion verifikasi).

Hasil penelitian adalah 1) BMT Muamalah Syari’ah Tebuireng Jombang telah berupaya dan berusaha untuk mengembangkan usaha kecil dengan memberikan pembiayaan-pembiayaan kepada pengusaha kecil. Dengan pemberian pembiayaan ini agar dapat mengembangkan usaha riil mereka yang lebih produktif dan maju daripada sebelum mendapatkan pembiayaan dari BMT. Selain itu BMT juga memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada pengusaha kecil, agar mampu untuk mengembangkan kreatifitas yang dimilikinya. 2) Strategi BMT Mu’amalah Syari’ah Tebuireng Jombang dalam pengembangan usaha kecil dengan mengadakan penyuluhan, menjalin hubungan kerjasama, meningkatkan kualitas SDM, konsultasi usaha, memberikan dana dan motivasi, ini semua diberikan oleh BMT semata-mata agar perkembangan usahanya bisa berkembang dengan baik, sehingga dapat menopang kehidupan keluarganya. 3) Setelah BMT Mu’amalah Syari’ah Tebuireng Jombang mempunyai usaha dan strategi untuk pengembangan usaha kecil, BMT juga mempunyai kekurangan dan kelebihan dalam pengembangan usaha kecil. Kelebihan BMT Mu’amalah Syari’ah Tebuireng Jombang yaitu memberikan pembiayaan atau modal kepada pengusaha kecil dan memberikan penyuluhan-penyuluhan untuk meningkatkan kreatifitas yang dimiliki oleh pengusaha kecil. Kekurangan BMT Mu’amalah Syari’ah Tebuireng Jombang yaitu masih terbatasnya permodalan, dan kurangnya kualitas sumber daya manusia.

Perbandingan Hukum Kedudukan Orang Tua Dalam Hukum Waris Islam, Hukum Waris KUHPerdata (BW), Dan Hukum Waris Adat Masyarakat Hindu Bali

ABSTRAK

KHOMISAH, Perbandingan Hukum Kedudukan Orang Tua Dalam Hukum Waris Islam, Hukum Waris KUHPerdata (BW), Dan Hukum Waris Adat Masyarakat Hindu Bali;  Jurusan Syari’ah Twinning Program Univ. Muhammadiyah Malang, 2009.

Kata kunci:

Hukum waris, Hukum Islam, KUHPerdata, Adat Hindu Bali

Ilmu waris adalah ilmu yang dianjurkan untuk dipelajari dan mengajarkan kepada orang lain yang belum mengetahui hukum waris tersebut. Didalam Al-Qur’an telah diatur dan dirinci secara jelas tentang pembagian waris tersebut, seperti dalam surat An-Nisa ayat 7-12, ayat 33, ayat 176 dan dalam QS. al-Anfal, ayat 75. Sedangkan dalam KUHPerdata hukum waris diatur dalam buku II. Waris dapat menyebabkan perselisihan dan dapat menimbulkan keretakan hubungan keluarga, dan dengan adanya waris seseorang bisa saling membunuh, hal ini terjadi karena kekurang tahuan tentang waris dan keserakahan manusia terhadap harta. Di Indonesia terdapat banyak suku adat yang berbeda-beda sehingga hukum waris yang digunakan pun berbeda-beda pada setiap adat, oleh karena itu penelitian ini hanya membahas pada adat masyarakat Hindu Bali. Dalam hukum waris terdapat banyak macam bahasan yang perlu dijelaskan lebih rinci, oleh karena itu penelitian ini hanya memfokuskan pada perbandingan hukum kedudukan orang tua dalam hukum waris Islam, hukum waris KUHPerdata (BW), dan hukum waris masyarakat Hindu Bali. Dalam hukum waris Islam, hukum waris KUHPerdata (BW), dan hukum waris masyarakat adat Hindu Bali terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah bahwa orang tua dapat berkedudukan sebagai ahli waris dari anak-anaknya. Sedangkan perbedaannya yang pertama adalah orang tua dalam hukum waris Islam termasuk dalam ahli waris utama, dalam hukum waris KUHPerdata orang tua termasuk dalam golongan kedua setelah tidak ada golongan pertama yaitu anak-anak dan keturunannya atau suami/istri yang hidup terlama, sedangkan dalam hukum waris adat masyarakat Hindu Bali orang tua merupakan ahli waris kelompok keempat setelah tidak ada anak laki-laki, anak perempuan dan tidaka ada janda. Dan perbedaan yang kedua adalah cara memberikan bagian waris kepada orang tua. Dalam hukum Islam bagian orang tua telah diatur dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 11 yaitu: 1. Ayah menerima harta waris sebagai ahli waris dzawil furudl yaitu mendapat 1/6 bagian dari harta peninggalan, jika pewaris mempunyai anak laki-laki dan cucu laki-laki dari anak laki-laki. 2. Ayah menerima harta waris sebagai ‘ashabah, apabila tidak ada anak kandung baik laki-laki atau perempuan. 3. Ayah menerima harta waris sebagai dzawil furudl dan ‘ashabah secara bersamaan apabila pewaris meninggalkan anak perempuan, seorang atau lebih dan anak perempuan dari anak laki-laki (cucu perempuan).4. Ibu memperoleh 1/3 bagian jika pewaris tidak memiliki anak, cucu dari anak laki-laki. Selain itu pewaris juga tidak memiliki ahli waris saudara laki-laki maupun saudara perempuan. 5. Ibu memperoleh 1/6 bagian dari jumlah harta waris apabila pewaris mempunyai anak laki-laki maupun anak perempuan, seorang ataupun banyak. 6. Ibu memperoleh 1/3 bagian sisa harta waris setelah diambil bagian suami atau istri terlebih dahulu, apabila ahli warisnya suami atau istri, ayah dan ibu saja. Sedangkan dalam hukum waris KUHPerdata (BW) bagian orang tua dan saudara pada golongan kedua ini dibagi dengan bagian sama rata dengan bagian minimal ¼ bagian. Dan dalam hukum waris masyarakat adat Hindu Bali tidak dijelaskan tentang bagian orang tua, untuk membagikan waris dilakukan musyawarah keluarga.