Prologue


Ikhlas
“Khairun naasi anfa’uhum linnaas”

Mengiringi tujuan hidup umum ini adalah banyak nilai-nilai kehidupan. Diantaranya adalah keutamaan memberi manfaat untuk orang lain, konsep surga neraka, serta misteri kematian. Keutamaan memberi manfaat untuk orang lain tersurat dalam catatan sejarah hidup Rasulullah saw yaitu Khairun naasi anfa’uhum linnaas.” Terjemahan bebasnya: sebaikbaik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain. Konsep ini sangat luar biasa bagi kehidupan.

Orang yang selalu menebar serta berbuat kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain adalah sebaik-baik manusia.  Rasulullah telah menyebutkan, setidaknya ada empat alasan;

Pertama;  karena ia dicintai Allah swt. Rasulullah saw. pernah bersabda yang bunyinya kurang lebih, orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Siapakah yang lebih baik dari orang yang dicintai Allah?

Kedua; karena ia melakukan amal yang terbaik. Kaidah usul fiqih menyebutkan bahwa kebaikan yang amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat ketimbang yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri.

Ketiga; karena ia melakukan kebaikan yang sangat besar pahalanya. Berbuat sesuatu untuk orang lain besar pahalanya. Bahkan Rasulullah saw. berkata, “Seandainya aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi suatu kebutuhannya, maka itu lebih aku cintai daripada I’tikaf sebulan di masjidku ini.” (Thabrani). Subhanallah.

Keempat; memberi manfaat kepada orang lain tanpa pamrih (Sepi Ing Pamrih), mengundang kesaksian dan pujian orang yang beriman. Allah swt. mengikuti persangkaan hambanya. Ketika orang menilai diri kita adalah orang yang baik, maka Allah swt. menggolongkan kita ke dalam golongan hambanya yang baik-baik.

Ikhlas bermakna menerima apa yang Allah berikan kepada kita. Hasil penerimaannya itu mengolah menjadi perbuatan positif dan bermanfaat. Bagi seorang yang ikhlas, seluruh perbuatannya akan selalu berdasarkan suara nurani untuk kebaikan semua orang dan semua makhluk. Jika timbul dalam hatinya sebuah niat baik, ia akan melakukannya. Hidupnya mengalir seperti air bah, menerjang apa saja yang ada di depannya. Untuk apa yang dia perbuat, dia sudah melupakan apa yang disebut dengan pujian dan cercaan. ”Amalnya tak lagi memberi ruang bagi lahirnya pujian atau cercaan,” kata Dzun Nun al-Mishry. Pada akhirnya kebahagian, kesuksesan bukan hal mudah untuk direngkuh. Tapi ia menjadi mudah manakala keikhlasan hadir. Semoga kita semua selalu istiqomah dalam keikhlasan diri, Amin Ya Robbal Alamin;_

One Response

  1. IS GOOD ! THANK”S BUANGET ILMU DAN WAWASANNYA
    SUCSES BUAT ANDA …OKE ?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: